Jakarta --- Besarnya aktivitas ekonomi yang terkait dengan halal value chains menunjukkan bahwa ekosistem halal memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan menyebut, berdasarkan data triwulan 3 tahun 2025, sekitar 27 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berkaitan dengan aktivitas dalam halal value chains.

Hal tersebut disampaikan Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan atau Babe Haikal saat menjadi narasumber dalam Diskusi Publik bertema “Industri Halal: Masa Depan Industri dan Ekonomi Indonesia” yang diselenggarakan Universitas Paramadina, Senin (24/8/2026).

Menurut Babe Haikal, angka tersebut menunjukkan bahwa halal tidak dapat lagi dipandang semata sebagai isu sertifikasi atau pemenuhan kebutuhan konsumen Muslim. Lebih luas dari itu, halal telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang mencakup berbagai sektor, mulai dari produksi, perdagangan, investasi, hingga rantai nilai.

“27% PDB Indonesia itu ada kaitannya dengan halal value chains. Ini menunjukkan bahwa halal bukan hanya urusan sertifikasi, tetapi memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi nasional,” ungkap Babe Haikal.

/uploads/Whats_App_Image_2026_08_24_at_19_34_23_0b781fc6c2.jpeg

Lebih lanjut, Babe Haikal menjelaskan, industri halal selama ini masih kerap dipahami sebatas sektor makanan dan minuman. Padahal, ruang pengembangan industri halal jauh lebih luas dan mencakup berbagai sektor yang memiliki nilai ekonomi besar. “Halal itu jangan hanya dipahami sebatas makanan dan minuman saja. Itu baru sebagian kecil. Masih banyak peluang dan potensi halal yang bisa dikembangkan,” ujar Babe Haikal.

Karena itu, menurutnya, besarnya potensi tersebut perlu diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi yang lebih nyata. Penguatan industri halal tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah produk bersertifikat halal, tetapi juga perlu diarahkan pada penguatan kapasitas produksi, perdagangan, investasi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan daya saing produk Indonesia.

Dalam konteks global, meningkatnya kebutuhan terhadap produk dan jasa yang memenuhi standar halal menjadi peluang yang perlu dimanfaatkan Indonesia. Dengan pasar domestik yang besar, sumber daya yang beragam, dan jumlah pelaku usaha yang terus berkembang, Indonesia memiliki modal untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi produsen dan pemain penting dalam industri halal global.

/uploads/Whats_App_Image_2026_08_24_at_19_34_25_e63c497758.jpeg

Babe Haikal juga mengingatkan semua pihak agar besarnya pasar domestik tidak justru membuat Indonesia hanya berperan sebagai konsumen.

“Jangan sampai Indonesia hanya menjadi pasar. Kita harus menjadi produsen. Potensi yang kita punya harus kita manfaatkan untuk membangun industri, membuka lapangan kerja, meningkatkan perdagangan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, optimalisasi halal value chains membutuhkan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, lembaga keuangan, masyarakat, dan berbagai pihak terkait perlu membangun ekosistem yang mampu menghubungkan potensi halal dengan aktivitas ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.

Diskusi Publik Universitas Paramadina diikuti sekitar 100 peserta secara luring dan daring. Kegiatan dihadiri Rektor Universitas Paramadina Didik Rachbini serta mahasiswa program pascasarjana Universitas Paramadina, civitas akademika lintas perguruan tinggi, masyarakat umum, pelaku swasta, perwakilan media, dan unsur masyarakat sipil. []